Mas Priyo Djatmiko menulis pada status FB-nya (24/12/2018):
FALASI BENCANA
Sebetulnya ini pernah saya tulis jadi ini pengulangan dengan cara
penuturan yang diusahakan lebih jelas. Dalam teologi Islam, azab dunia
itu tidak termasuk khawariqul 'adah, dengan demikian ia terjadi dengan
mekanisme sunnatullah kauniyah juga. Mau azab atau tidak, ia selalu
melalui mekanisme kausalitas. Jadi argumen bahwa kita sepakat bencana
terjadi melalui kausalitas tidak menjadi bukti bahwa ia bukan azab, yang
begini ini false dichotomy.
Falasi juga bisa muncul dari
sisi sebaliknya. Al Quran memang mengisahkan sebagian azab diturunkan
dalam bentuk bencana alam, tapi tidak otomatis sebaliknya, ini merupakan
falasi negatif premis. Tidak ada dalil kuat bahwa bencana pasti suatu
azab. Bencana bisa muncul dengan berbagai tujuan. Musibah, ujian,
hukuman. Hukuman sendiri ada dua: hukuman karena manusia tidak
melaksanakan perintah-perint ah syar'iyyah atau hukuman karena manusia tidak melakukan perintah-perint ah
untuk memakmurkan bumi tanpa berbuat kerusakan, sebagaimana menjadi
salah satu kandungan ayat "dzhaharal fasada fil barri wal bahri bima
kasabat aydinnaas".
Tanpa bisa memastikan apa itu tujuan suatu
bencana, buah aksiologis dari worldview bencana dalam islam cukup jelas:
meningkatkan ketakwaan, mengingat dosa-dosa, meningkatkan ketundukkan
atas keagungan ayat-ayat dan kekuasaan Allah. Untuk menumbuhkan itu
semua tidak mensyaratkan suatu bencana itu adalah azab.
Tidak harus azab, bencana termasuk dalam keumuman semua fenomena alam
yang bersifat luar biasa adalah ayat-ayat Allah, yang memiliki hikmah
supaya kita harus senantiasa mengingat Allah dan meningkatkan ketakwaan.
Banyak sekali ayat dan hadits yang menjadi dalil, misal "inna fi
khalqissamawati wal ardhi wakhtilafillayl i
wannahari la ayatin li ulil albab". Karena sifatnya yang lebih
menakutkan dan menyadarkan kelemahan kita sebagai manusia,maka tuntutan
dan efeknya untuk membuat kita lebih ingat Allah lebih besar.
Maka salah besar melecehkan agamawan yang mengajak kita meningkatkan
iman, takwa, spiritualitas saat bencana, yang pertama mengira dengan
kesombongan kalau itu bukti para agamawan itu bodoh akan kausalitas atau
sains. Kedua mengira kalau sesuatu itu kausalitas atau sains maka
manusia harus kehilangan ketakjubannya. Sunnah alam mungkin dapat
dimengerti, dapat dijelaskan, bahkan terkadang dapat diprediksi sampai
di"rekayasa" untuk tujuan-tujuan manusia. Tapi tak sepantasnya kita
hilang kepekaan untuk mengagumi keagungan-keagu ngan di sana dan kelemahan-keser bakecilan kita manusia.
Aksiologi kedua dari satu bencana adalah berikhtiyar menghindarkan diri
dari dampak bencana. Aksiologi yang kedua ini tak kontradiktif dengan
yang pertama sebagaimana perkataan Umar bin khattab mendudukkan
tashawwur; ketika ia menginstruksika n
kaum muslimin untuk menghindar dari bencana epidemi penyakit, beliau
mengatakan "kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah!". Aksiologi
yang ketiga tentu saja membantu mereka yang tertimpa bencana.
*Gambar dari pencarian Google

Posting Komentar